Menebak Arah negara Israel pasca Memiliki Panglima Militer Baru yang dimaksud Suka Berperang

GAZA – Panglima Militer negeri Israel yang mana baru adalah pensiunan Mayor Jenderal Eyal Zamir, mantan direktur jenderal Kementerian Pertahanan, yang masa jabatannya dimulai pada hari Rabu.
Zamir menggantikan Letnan Jenderal Herzi Halevi, yang digunakan mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan Januari untuk mengantisipasi laporan minggu lalu mengenai kegagalan militer yang tersebut dahsyat selama serangan yang digunakan dipimpin gerakan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023.
Pemerintah, yang tersebut dipimpin oleh Awal Menteri Benjamin Netanyahu, telah lama menolak untuk mengizinkan penyelidikan menghadapi kegagalannya hari itu.
Menteri Perlindungan negara Israel Katz, dengan dengan Netanyahu, memilih Zamir untuk jabatan yang dimaksud bulan lalu. Ia akan mengawasi semua operasi militer Israel, termasuk penempatannya dalam Gaza, Suriah, lalu Lebanon.
Menebak Arah negeri Israel pasca Memiliki Panglima Militer Baru yang dimaksud Suka Berperang
1. Pernah Menembak Mati Bermacam-macam Demonstran Palestina
Zamir sudah dipertimbangkan untuk jabatan kepala staf sebanyak dua kali, tetapi tidaklah dipilih kedua kali dikarenakan digantikan oleh Halevi yang dimaksud akan segera pensiun kemudian pendahulunya, Aviv Kohavi.
Awalnya wajib militer pada tahun 1984, Zamir naik pangkat dari perwira tank menjadi komandan Brigade Lapis Baja ke-7 pada tahun 2003 lalu Divisi Lapis Baja ke-36 pada tahun 2009.
Yang terpenting bagi keberhasilannya di dalam masa depan, ia menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu dari tahun 2012 hingga 2015, kemudian menjadi pemimpin komando selatan negara Israel selama tiga tahun berikutnya.
Pada tahun terakhirnya dalam komando selatan, pasukan Zamir “menghadapi” pengunjuk rasa Palestina dari Daerah Gaza yang terlibat dan juga pada Great March of Return; mereka itu menewaskan tambahan dari 150 pengunjuk rasa serta melukai 10.000 lainnya, termasuk 1.849 anak-anak, 424 wanita, 115 paramedis, dan juga 115 jurnalis.
Pada November 2018, Netanyahu mempromosikannya menjadi duta kepala staf.
Di awal protes, setelahnya terbunuhnya 16 warga Palestina di satu hari di area bulan Mei, Zamir membela tindakannya, dengan mengungkapkan pasukannya telah dilakukan “mengidentifikasi upaya untuk melakukan serangan teror dengan kedok kerusuhan”.
Pada tahun 2021, ia meninggalkan militer juga Israel, berangkat ke Amerika Serikat, tempat ia menjadi peneliti tamu pada lembaga pemikir Washington Institute for Near East Policy, lalu kembali ke negara Israel pada tahun 2023 pada waktu ia diangkat menjadi direktur jenderal Kementerian Pertahanan.
2. Sangat Suka Berperang
Ia tampaknya menyukai perang.






