Negeri Paman Sam Usir Duta Besar Afrika Selatan, Ada Apa Gerangan?

WASHINGTON – Duta besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat, Ebrahim Rasool, telah lama dinyatakan sebagai persona non grata lalu tak lagi diterima dalam negara tersebut. Itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengumumkan di langkah diplomatik yang langka.
Pemerintah Afrika Selatan belum mengeluarkan tanggapan resmi pasca Rubio menuduh Rasool sebagai “politisi yang dimaksud menghasut tentang ras” yang digunakan menyimpan permusuhan terhadap orang Amerika lalu Presiden Donald Trump secara pribadi.
“Duta besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat tiada lagi diterima dalam negara kita yang digunakan hebat,” kata Rubio pada sebuah posting dalam X, dilansir RT. “Kami bukan punya apa pun untuk dibicarakan dengannya, jadi beliau dianggap sebagai persona non grata.”
Rubio tidak ada memberikan alasan khusus untuk pengusiran tersebut, tetapi membagikan tautan ke cerita Breitbart tentang pidato Rasool baru-baru ini pada sebuah webinar yang digunakan diselenggarakan oleh lembaga pemikir Afrika Selatan, di tempat mana ia menyalahkan kebijakan pemerintahan Trump.
“Apa yang digunakan Donald Trump luncurkan adalah serangan terhadap petahana, merek yang mana berkuasa, dengan memobilisasi supremasi terhadap petahana – di area di negeri dan… dalam luar negeri juga,” kata Rasool untuk forum Mapungubwe Institute for Strategic Reflection (MISTRA) pada hari Jumat.
Ia menggambarkan pergerakan MAGA Trump sebagai “respons bukanlah belaka terhadap naluri supremasi, tetapi juga terhadap data yang mana sangat jelas yang dimaksud menunjukkan transformasi demografis yang dimaksud besar di tempat AS.”
“Saya pikir ada juga ekspor revolusi,” tambahnya, mengklaim bahwa “bukan kebetulan bahwa Elon Musk telah terjadi melibatkan dirinya pada kebijakan pemerintah Inggris” serta bahwa “Wakil Presiden Vance berbicara terhadap Alternatif untuk Jerman [AfD] untuk menguatkan mereka di kampanye pemilihan mereka.”
Perpecahan diplomatik terjadi dalam berada dalam meningkatnya ketegangan antara Washington dan juga Pretoria. Trump baru-baru ini melakukan penandatanganan perintah eksekutif yang mana memotong bantuan ke Afrika Selatan, dengan mengutip undang-undang perampasan tanah yang kontroversial yang dimaksud menurutnya mendiskriminasi warga epidermis putih Afrika Selatan.
Baca Juga: Proposal Mesir untuk Wilayah Gaza 2030 Persatukan Negara-negara Arab
Pemerintah Afrika Selatan menyatakan bahwa undang-undang yang disebutkan bertujuan untuk mengatasi kesenjangan historis, lantaran petani epidermis putih masih miliki sebagian besar lahan pertanian meskipun hanya saja sekitar 7% dari populasi. eksekutif sudah menetapkan target untuk mengalihkan 30% lahan pertanian untuk petani lapisan kulit hitam pada tahun 2030.
Pengusiran Rasool merupakan langkah yang dimaksud tiada biasa di hubungan diplomatik, meskipun diplomat berpangkat rendah telah lama menjadi sasaran tindakan sama pada masa lalu.
Terakhir kali Amerika Serikat menyatakan duta besar asingnya sebagai persona non grata adalah pada tahun 2008, ketika Negeri Paman Sam mengusir duta besar Bolivia sebagai balasan pasca Bolivia menuduh utusan Negeri Paman Sam Philip Goldberg mencampuri urusan pada negerinya.






