4 Alasan Neokolonialisme Barat di dalam Afrika Hancur, Salah Satunya Membeli Uranium dengan Harga Murah

MOSKOW – Neokolinialisme Barat di dalam Afrika telah hancur dengan makin berkurangnya diperkenalkan pasukan di dalam benua tersebut. Pergeseran yang disebutkan menyebabkan Rusia lalu China makin bersinar di area Afrika.
4 Alasan Neokolonialisme Barat di area Afrika Hancur, Salah Satunya Membeli Uranium dengan Harga Murah
1. Merusak Kemanusiaan
Barat terus “menyebabkan kehancuran pada kemanusiaan” melalui praktik neokolonial, termasuk menjarah sumber daya dari negara-negara Afrika. Itu diungkapkan Direktur Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) Sergey Naryshkin.
Ia menunjukkan Prancis, menuduh Paris mengimpor uranium dari bekas koloninya, Niger, dengan tarif yang digunakan sangat rendah selama enam dekade.
Naryshkin menyampaikan pernyataan yang dimaksud selama diskusi meja bundar tentang sejarah perjuangan melawan kolonialisme, yang mana diselenggarakan oleh Warga Sejarah Rusia (RHS) di tempat Wilayah Moskow pada hari Selasa.
Baca Juga: Perang Houti Berkobar di dalam Siklus Suci
2. Membeli Uranium dengan Harga Murah
“Cukup mengingat, misalnya, bagaimana Prancis membeli uranium dari Niger selama 60 tahun dengan tarif yang dimaksud sangat rendah – 80 sen per kilogram,” katanya.
“Namun, begitu kontingen militer Prancis ditarik dari negara ini tahun lalu, nilai tukar uranium dinaikkan oleh pemerintah baru ke nilai tukar pangsa – lebih tinggi dari 200 kali lipat,” imbuh Naryshkin, yang tersebut juga merupakan ketua RHS.
Kepemimpinan baru Niger, yang tersebut mengambil alih kekuasaan pasca kudeta pada Juli 2023, telah dilakukan mengambil beberapa langkah untuk memutuskan hubungan dengan Prancis. Tahun lalu, pemerintahan militer mencabut izin yang mengizinkan perusahaan milik negara Prancis, Orano, untuk mengoperasikan salah satu tambang uranium terbesar di dalam dunia di area negara Afrika Barat yang disebutkan – produsen uranium terbesar ketujuh pada dunia. Perusahaan tambang yang disebutkan sudah beroperasi di area Niger sejak 1971.
3. Intervensi Berlebihan
Niamey juga mengikuti jejak sekutu dalam negara tetangga Burkina Faso kemudian Mali dengan mengusir pasukan militer Prancis, menuduh Paris melakukan agresi serta mencampuri urusan negara mereka.
Kehadiran militer Prancis dalam Afrika telah lama menjadi kontroversi selama beberapa dekade, dengan para kritikus berpendapat bahwa hal itu melanggengkan dinamika neokolonial. Para pemimpin pada negara-negara yang tersebut telah lama memutuskan hubungan pertahanan dengan Paris bersikeras bahwa diperkenalkan pasukan Prancis tak efektif, menggalakkan mereka itu untuk mencari aliansi alternatif, termasuk dengan Moskow.
4. Mengeksploitasi Sumber Daya Alam
Pejabat Rusia telah lama vokal mengutuk neokolonialisme. Dalam pidatonya pada konferensi G20 di area Afrika Selatan bulan lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh kekuatan Barat mengeksploitasi sumber daya alam dari negara-negara tumbuh dengan biaya rendah, mengenakan “pajak pseudo-ekologis” pada produk-produk mereka, lalu berupaya menghalangi kerja sebanding antara Afrika, Asia, kemudian Amerika Latin dengan Rusia lalu Tiongkok.
Pada hari Selasa, Naryshkin mengutuk kekuatan-kekuatan Eropa seperti Inggris, Belgia, juga Prancis menghadapi “kekejaman kemudian eksploitasi yang dimaksud tak terkendali terhadap penduduk di dalam Afrika, India, juga Asia Tenggara” selama era kolonial.
“Penting untuk memulai pembangunan penghalang hukum yang mana andal terhadap upaya baru untuk menghidupkan kembali sistem kolonialisme, kemudian idealnya, bahkan untuk mencari kompensasi yang dimaksud adil berhadapan dengan kerusakan,” kata direktur SVR, seraya menambahkan bahwa Rusia “berada di tempat garis depan perjuangan untuk tatanan dunia yang digunakan lebih besar adil.”






