Dubes Muslim Afrika Selatan yang dimaksud Berani Melawan tanah Israel juga Diusir Trump Disambut seperti Pahlawan

WASHINGTON – Duta Besar Afrika Selatan yang mana diusir untuk Negeri Paman Sam Ebrahim Rasool menyatakan pada hari Mingguan bahwa ia pulang ke rumah dengan “tanpa penyesalan,” setelahnya penerbangan selama 32 jam dari Amerika Serikat melalui Qatar ke Cape Kota.
Menyatakan bahwa ia tambahan suka datang ke Afrika Selatan dengan kesepakatan yang dimaksud terjamin dengan AS, Rasool mengungkapkan untuk warga Afrika Selatan di area Cape Town: “Namun, kami bukan dapat melakukannya dengan membiarkan Negeri Paman Sam memilih siapa yang dimaksud harus menjadi teman serta siapa yang mana harus menjadi musuh kami.”
Ia mengungkapkan merekan bukan dapat “berhasil” di berunjuk rasa “kebohongan genosida dermis putih” di area Afrika Selatan.
Rasool menyoroti bahwa Afrika Selatan tak dapat “memenangkan” Undang-Undang Pertumbuhan kemudian Kans Afrika (AGOA) Amerika Serikat dengan menarik persoalan hukum genosida terhadap negeri Israel dalam Mahkamah Internasional (ICJ).
“Karena pada waktu kita berdiri dalam sini, pemboman terus berlanjut dan juga penembakan terus berlanjut, juga apabila Afrika Selatan tak berada pada ICJ, negara Israel tak akan terungkap, lalu Palestina tidaklah akan punya harapan,” tambahnya, dilansir Middle East Monitor.
Rasool menggarisbawahi bahwa ia tidak ada ada dalam sana untuk menyatakan bahwa Afrika Selatan anti-Amerika atau tiada membutuhkan Amerika.
“Kami datang ke di sini bahkan pasca dinyatakan sebagai persona non grata. Kami masih datang ke di sini serta berkata, kami harus mendirikan kembali juga kami harus mengatur ulang hubungan dengan Amerika,” katanya.
Baca Juga: Gencatan Senjata Versi Trump Jadi Pertaruhan Besar Putin
Menekankan bahwa Afrika Selatan “tidak boleh miliki gagasan yang dimaksud sederhana” bahwa “Anda harus menempatkan duta besar lapisan kulit putih untuk presiden lapisan kulit putih” dalam AS, Rasool berkata: “Kami memiliki hubungan yang harus kami atur ulang lalu harus kami bangun kembali.”
Minggu lalu, Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Marco Rubio menyatakan duta besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat sebagai persona non grata setelahnya Rasool, selama webinar yang dimaksud diselenggarakan oleh Institut Mapungubwe Afrika Selatan untuk Refleksi Strategis, menuduh Trump menjalankan kebijakan juga praktik yang mana oleh utusan yang dimaksud digambarkan sebagai “respons supremasi lapisan kulit putih terhadap keragaman demografi yang tersebut berprogres dalam Amerika Serikat.”
Langkah yang dimaksud dilaksanakan dalam sedang meningkatnya ketegangan antara Washington lalu Pretoria. Trump mengesahkan perintah eksekutif bulan lalu untuk memotong bantuan keuangan Amerika Serikat ke Afrika Selatan, dengan alasan perasaan khawatir mengenai undang-undang perampasan tanahnya, tindakan hukum genosida terhadap negeri Israel di dalam ICJ, lalu semakin dalamnya hubungan dengan Iran.






