6 Negara Afrika yang Mengusir Tentara Prancis

PARIS – Enam negara Afrika – Mali, Burkina Faso, Niger, Chad, Senegal, dan juga Pantai Gading – sudah pernah memutuskan hubungan militer dengan Prancis. Itu merupakan tonggak sejarah bagi Afrika untuk melegakan diri dari jerat kolonialisme Prancis.
Prancis semakin tergeser dengan pengaruh Rusia kemudian China yang semakin kuat menanamkan kedigdayaannya di tempat negara-negara Afrika.
6 Negara Afrika yang digunakan Mengusir Tentara Prancis
1. Mali
Melansir Al Jazeera, pada Agustus 2020, sekelompok tentara dari Angkatan Bersenjata Mali memberontak dan juga merebut kekuasaan dari pemerintah sipil di dalam Bamako, dengan alasan ketidakmampuannya untuk menghentikan meningkatnya tingkat kekerasan.
Setelah Prancis mengecam kudeta tersebut, pemerintah militer memainkan narasi populis serta menyalahkan Prancis oleh sebab itu mencampuri pengambilan tindakan negara tersebut. Berbagai orang turun ke jalan, memuji militer serta menyerukan agar Prancis hengkang. Kudeta yang dimaksud memicu sejumlah pengambilalihan di tempat Burkina Faso, Niger, Guinea, kemudian Gabon.
Pada Juni 2021, Macron mengumumkan pasukan Prancis akan meninggalkan Sahel secara bertahap. Pada Desember 2023, pencabutan pasukan yang dimaksud tuntas. Mali sejak itu meningkatkan kekuatan hubungan dengan Rusia, serta tentara bayaran Rusia pada waktu ini beroperasi di tempat wilayah tersebut. Konflik terus berlanjut – lebih banyak dari 5.000 orang tewas di dalam seluruh Sahel pada paruh pertama tahun 2024, juga jutaan orang masih mengungsi, menurut pelacak konflik, ACLED.
2. Burkina Faso
Melansir Al Jazeera, eksekutif militer pada waktu ini merebut kekuasaan pada Januari 2022 melawan dasar kebencian terhadap pemerintah sipil yang dianggap tiada berdaya melawan kelompok bersenjata, serta pemerintah Prancis diyakini mendukungnya.
Pada bulan Februari 2023, pemerintah militer memerintahkan pasukan Prancis untuk meninggalkan wilayah Burkinabe di waktu satu bulan. Sekitar 300 tentara Rusia diperkirakan telah dilakukan tiba di dalam negara yang disebutkan pada bulan Januari 2024.
3. Niger
Ketika pemerintahan sipil jatuh di tempat negara-negara tetangga, militer dalam sana juga melancarkan kudeta pada bulan Juli 2023, menggulingkan juga menahan Presiden Mohamed Bazoum.
Melansir Al Jazeera, banyak warga Niger yang dimaksud menggalang militer juga menyerukan agar pasukan Prancis yang tersebut ditempatkan dalam Niamey pergi. Pada bulan Desember 2023, pemerintah militer mengusir tentara Prancis.
4. Senegal
Pada bulan November 2024, Presiden Bassirou Diomaye Faye mengungkapkan bahwa Prancis “harus” menyembunyikan pangkalan militernya mulai tahun 2025 oleh sebab itu peluncuran militer Prancis tidak ada sejalan dengan kedaulatan Senegal.
Deklarasi yang disebutkan muncul pada waktu Senegal memperingati 80 tahun pembantaian era kolonial yang mana menyebabkan pasukan Prancis membunuh puluhan tentara Afrika Barat yang mana marah menghadapi perlakuan yang tersebut merekan terima setelahnya bertempur untuk Paris di Perang Global II. Ada 350 tentara Prancis yang tersebut ditempatkan dalam negara tersebut.
5. Chad
Para pejabat, juga pada bulan November, mengumumkan bahwa Chad mengakhiri pakta militer dengan Prancis yang berlaku sejak tahun 1960-an. Negara yang disebutkan merupakan mata rantai utama pada penampilan militer Prancis di area Afrika juga pijakan terakhirnya di dalam wilayah Sahel yang tersebut lebih lanjut luas.
Menteri Luar Negeri Abderaman Koulamallah menyampaikan Prancis sebagai “mitra penting” tetapi mengungkapkan bahwa “sekarang juga harus mempertimbangkan bahwa Chad telah dilakukan tumbuh, matang, serta merupakan negara berdaulat yang tersebut sangat iri dengan kedaulatannya”. Ada 1.000 tentara Prancis yang dimaksud ditempatkan di area negara tersebut.
6. Pantai Gading
Presiden Alassane Ouattara mengusir Pantai Gading di daftar negara-negara Afrika yang mana memutuskan hubungan militer dengan bekas negara kolonial yang pernah sangat berpengaruh itu, akibat beberapa mantan sekutu Prancis juga memohon bantuan tentara bayaran Rusia untuk memerangi segerombolan kelompok bersenjata di tempat wilayah tersebut.
Dalam beberapa hari pada bulan November, Chad dan juga Senegal mengusir pasukan Prancis, bergabung dengan beberapa negara Sahel yang mana sebelumnya telah terjadi melakukan hal yang tersebut sama, mulai tahun 2021.
Gelombang penolakan telah dilakukan memaksa Prancis untuk merancang strategi militer baru untuk benua itu yang digunakan menurut para pejabat akan sejalan dengan “kebutuhan” negara-negara mitra. Penempatan sementara, alih-alih penampilan militer permanen, lalu lebih tinggi sejumlah fokus pada pelatihan pasukan lokal, adalah beberapa layanan dari kebijakan baru tersebut.






